Saturday, March 21, 2009

Giving more, more, and more

sebuah dialog antara pemulung dengan pemilik rumah

pada suatu hari, datanglah seorang pemulung ke sebuah rumah. Dia ini datang juga karena dipanggil si empunya rumah yang ternyata sudah mengumpulkan barang-barang bekas menjadi beberapa dus. lalu terjadilah dialog yang kira-kira setelah diterjemahkan menjadi sebagai berikut :

Owner : Tuh, itung berapa jadinya (ternyata barang-barang bekas tadi dijual ke pemulung)
Pemulung: 5000 rupiah ya
Owner : Murah banget. 10000 dong. banyak ini barangnya
Pemulung: Ga bisa bu..
Owner : (tetep keukeuh) pokoknya 10000, ga kurang.
Pemulung: yee,,kalo 10000 jual aja ke langit bu
Owner : ya udah kalo ga mau. (sambil memasukkan kembali barang bekas itu)

So, apa yang mengganggu pikiranku?
See? Life isn't fair. And life's hard enough.
Apakah si empunya rumah (yg hidupnya berkecukupan, mau makan apa aja bisa beli) tidak tau betapa sulitnya jadi pemulung? aku bukan pemulung, dan aku tidak berharap bekerja seperti itu. Tapi pasti semua orang normal taulah. Mungkin beliau hidup di lapak kumuh. mungkin juga bersesak-sesak dengan anak istri.

Setiap ratusan rupiah berarti banyak buat pemulung. Setiap gram berarti rupiah. setiap rupiah berarti nasi untuk keluarganya.
Akankah kita memotong jumlah nasi yanng sudah menipis di dapur si pemulung itu?

Kalaupun tadi dibayar 5000, toh itu tidak membuat kelaparan si ibu empunya rumah.
anggaplah itu sodaqoh yang kadang teerlupakan jika tidak ada yang mengingatkan.
Insya Allah kita tidak akan jatuh bangkrut hanya karena 5000 yang kita berikan pada pemulung. Allah Maha Kaya. Allah Maha Memberi. Allah pasti membalas perbuatan kita.

1 comment:

ratri said...

setuju...jadi orang ga boleh pelit, berbagilah selama masih bisa memeberi...what you give is what you get return